4 Tantangan Liga 1 Gelar Kompetisi di Masa Pandemi Covid-19-Spekta Sports

Pesepak bola Madura United (MU) Alberto Goncalves  (kiri) melewati pesepak bola Barito Putera Kurniawan (kanan) dalam laga Liga 1 di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan (SGMRP) Pamekasan, Jawa Timur, Sabtu (29/2/2020). MU memenangi pertandingan tersebut dengan skor 4-0. ANTARA FOTO/Saiful Bahri/aww.

Jakarta, CNN Indonesia — Liga 1 2020 memiliki sejumlah tantangan jika memutuskan melanjutkan kompetisi di tengah pandemi virus corona.

Beberapa klub berkeinginan agar kompetisi musim ini yang terhenti sejak Maret lalu kembali digelar meski dalam kondisi darurat virus corona. Meskipun klub-klub lain menolak sebelum Covid-19 di Indonesia benar-benar mereda.

Padahal, kompetisi Liga 1 2020 baru berjalan di awal-awal musim dengan melakoni tiga pertandingan. Jika benar-benar bertekad melanjutkan Liga 1 2020, maka seluruh stakeholder sepak bola dan olahraga di Indonesia perlu mempersiapkan segala peraturan dengan optimal.
Tujuan dari peraturan baru itu tidak saja kembali menggeliatkan industri sepak bola, tetapi juga mencegah terjadinya klaster baru virus corona dari sepak bola. Peraturan-peraturan itu yang akan jadi tantangan bagi Liga 1 dalam melanjutkan kompetisi.
Berikut 3 tantangan yang dimiliki Liga 1 saat menjalankan kompetisi di masa pandemi virus corona:

1. Protokol Kesehatan

Dengan menjalani liga di masa wabah Covid-19, PSSI dan PT Liga Indonesia Baru perlu menyiapkan protokol kesehatan yang ketat. Terlebih lagi kurva virus corona di Indonesia belum menunjukkan penurunan sampai dengan saat ini.

Salah satu fungsi protokol kesehatan ini mencegah klub, baik dari pemain, pelatih, staf tim, hingga perangkat pertandingan maupun kru pemegang hak siar terpapar virus corona saat bertugas.

Peraturan tersebut tidak saja berlaku di saat pertandingan, tetapi juga ketika klub-klub menggelar latihan rutin sebagai persiapan jelang laga. Seperti bagaimana pemain, pelatih, dan staf tiba di tempat latihan, hingga datang ke stadion saat pertandingan.

Masalah physical atau social distancing saat pertandingan juga perlu diperhatikan. Seperti yang terjadi di Liga Jerman, di mana selebrasi gol secara berkerumun dilarang hingga menempatkan pemain cadangan di tribune penonton.

Pemain Bali United Lerby Eliandry (kiri) berebut bola dengan pemain Persita Tangerang Hamka Hamzah (kanan) saat pertandingan Liga 1 2020 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Minggu (1/3/2020). Pertandingan tersebut berakhir imbang dengan skor 0-0. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/wsj.Beban keuangan klub bisa bertambah jika berkompetisi di masa pandemi. (ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF)

Sebelumnya, Dokter Timnas Indonesia Syarif Alwi menyebut tes rapid seminggu sekali perlu dimasukkan ke dalam protokol kesehatan ketika liga bergulir kembali. Tes rapid itu berlaku untuk seluruh klub beserta karyawannya.

Satu hal yang tidak kalah penting adalah kebijakan jika ada pemain, pelatih atau staf klub yang terinfeksi virus corona. Apakah proses karantina nanti akan jadi tanggung jawab klub atau terpusat yang dikelola oleh PSSI dan PT LIB.

2. Masalah Keuangan

Terhentinya kompetisi selama lebih dari tiga bulan membuat klub-klub kehilangan pemasukan. Bahkan, guna memberikan ‘nafas’, PSSI sampai mengeluarkan kebijakan pemotongan gaji kepada para pemain.

[Gambas:Video CNN]

Persoalan keuangan ini bisa bertambah jika melakukan tes rapid selama satu minggu sekali diberlakukan dalam protokol kesehatan. Pasalnya, biaya yang harus dikeluarkan klub untuk satu kali rapid test adalah Rp300 ribuan untuk satu orang.

Aspek finansial ini akan jadi masalah serius lantaran penonton belum tentu diperbolehkan datang ke stadion saat pertandingan. Padalah, penonton merupakan faktor utama dalam pendapatan klub.

Seluruh klub Liga 1 masih bergantung pada pemasukan dari tiket penonton guna menghidupi operasional mereka. Dengan begitu, melanjutkan kompetisi di masa pandemi seperti sekarang ini akan membuat klub-klub lebih boros.

Terkait masalah keuangan ini, beberapa klub yang termasuk ke dalam klub kecil tentu akan mengharapkan dana subsidi dari sponsor atau hak siar.

GIF Banner Promo Testimoni

3. Gaji Pemain

Gaji pemain adalah salah satu faktor yang membuat klub memiliki pengeluaran besar. Dalam kondisi yang berbeda seperti saat ini, klub dan pemain perlu memiliki kesepakatan soal masalah gaji.

Tentu saja, besaran gaji yang akan diterima pemain, pelatih, maupun staf klub tidak akan sama dengan musim-musim sebelumnya. Terlebih lagi klub tidak mendapat pemasukan seperti musim-musim sebelumnya.

Skema gaji ini masih ditunggu dari diskusi antara APPI sebagai perwakilan pemain dan APSI dari sisi pelatih.

4. Format Kompetisi

Format kompetisi bisa membantu klub-klub menjalani Liga 1 di masa new normal. Jika PSSI dan PT LIB memaksakan liga digelar dengan kompetisi penuh, maka klub-klub harus mengeluarkan kocek yang besar hingga akhir musim.

Mengubah format menjadi per wilayah atau home tournament bisa jadi pertimbangan lain demi melangsungkan kompetisi pada situasi sekarang ini. (sry/jun)





berita olahraga