Saran Klub Liga 1: Penyesuaian Kontrak hingga Ganti Turnamen

APPI Upayakan Gaji Minimum Pemain Liga Sesuai UMR-Spekta Sports

Jakarta, CNN Indonesia — Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) masih memperjuangkan gaji minimum pesepakbola Liga 1 dan Liga 2 di masa pandemi covid-19 sesuai Upah Minimum Regional (UMR) masing-masing daerah.

Ketua legal APPI, Mohammad Agus Riza Hufaida, mengatakan sampai saat ini masih banyak pesepakbola yang tidak mendapatkan gaji yang sesuai dengan perundang-undangan ketenagakerjaan di Indonesia setelah pemberlakuan kebijakan PSSI berupa Surat Keputusan (SK) gaji 25 persen yang dikeluarkan klub di masa pandemi terhitung mulai Maret sampai Juni 2020.

“Selama ini kami (APPI) tidak pernah menganggap ada SK itu. Jadinya, dalam pelaksanaan SK itu, ada pemain yang menolak. Bolehlah ada pemotongan, tapi seharusnya gaji Maret itu penuh karena pemain sudah berlatih dan bertanding,” kata Riza kepada wartawan, Selasa (16/6).
Lebih lanjut Riza mengatakan kebijakan yang dikeluarkan PSSI soal gaji tidak sesuai dengan Pasal 90 Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003. Pada ayat satu pasal tersebut berbunyi pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 yakni soal upah minum berdasarkan wilayah Provinsi atau Kabupaten Kota.

APPI ingin memperjuangkan batas bawah gaji pemain setara UMR setelah adanya pemotongan melalui kebijakan yang dikeluarkan PSSI.

Banner Live Streaming MotoGP 2020

“Ada pemain yang menerima [gaji] tapi di bawah UMR. Kesepakatan apa pun, kalau di bawah UMR itu sudah pasti batal demi hukum. Artinya, klub berkewajiban memberikan pemain itu minimal UMR.”

“Pemain berhak menuntut. Kalau mereka memilih menerima di bawah UMR, harus dihitung selisihnya. Kekurangan itu bisa diminta ke klub. Pemain berhak mendapat sesuai UMR karena sudah ada ketentuan perundang-undangan,” jelasnya.

Riza mengungkapkan pembayaran gaji pemain-pemain Liga 1 masih terbilang aman, yang menjadi perhatian adalah kondisi yang terjadi pada pemain-pemain yang membela klub-klub Liga 2.

“Yang riskan itu Liga 2. Rata-rata gaji mereka Rp5 juta-an per bulan. Bayangkan dipotong 50%, pasti di bawah UMR. Artinya, kebijakan pemotongan gaji fleksibel, tidak bisa dipukul rata. Kami selalu ingatkan PSSI soal ini biar tidak memunculkan tuntutan di kemudian hari,” tegasnya.

Sementara itu, General Manager APPI, Ponaryo Astaman mengatakan sampai saat ini belum ada titik temu antara APPI dengan PSSI terkait formula gaji pesepakbola di masa pandemi covid-19. Padaha SK soal gaji yang dikeluarkan PSSI pada Maret lalu bakal berakhir pada akhir Juni mendatang.

“Belum [selesai], masih nego. Finalisasi itu kan proses upaya final, atau masih nego. Harusnya bisa segera selesai [SK baru soal gaji]. Tapi mungkin ada pertimbangan lain, mungkin juga soal kesehatannya karena ini persoalannya kompleks bukan hanya gaji saja. Banyak faktor yang harus dipikirkan,” imbuh Ponaryo.

[Gambas:Video CNN]

(ttf/bac)





berita olahraga