Pelatih Arsenal Mikel Arteta dikritik oleh mantan pemain The Gunners jelang bentrok melawan Everton di Liga Inggris.

Arsenal Menikmati Kekalahan Bersama Arteta-Spekta Sports

Jakarta, CNN Indonesia —

Jika banyak klub mencari kemenangan dan gelar juara dengan memburu kemenangan, maka Arsenal sebaliknya. Saat ini The Gunners lebih menikmati kekalahan demi kekalahan bersama Mikel Arteta.

Kekalahan 1-4 dari Manchester City di perempat final Piala Liga Inggris menjadi hasil terkini yang diraih klub asal London Utara tersebut.

Dalam empat laga terakhir Arsenal selalu gagal meraih kemenangan dan hanya berhasil meraih hasil seri ketika bertemu dengan Southampton pada 17 Desember.

Jika ditarik lebih jauh, Arsenal belum pernah lagi meraih kemenangan di kancah domestik, baik di Liga Inggris dan Piala Liga, setelah menjungkalkan Manchester United pada awal November.

Empat kali menang, dua kali seri, dan delapan kali kalah adalah rapor Arsenal bersama Arteta di Liga Inggris musim ini. Mengoleksi 14 poin, Arsenal hanya terpaut empat poin dari zona degradasi. Jauh dari persaingan zona Eropa, apalagi jalur juara Premier League.

Everton's Gylfi Sigurdsson takes a free kick which hits Arsenal's David Luiz in the stomach during the English Premier League soccer match between Everton and Arsenal at Goodison Park in Liverpool, England, Saturday, Dec. 19, 2020. (AP Photo/Jon Super, Pool)Arsenal lebih dekat dengan zona degradasi ketimbang zona Eropa. (AP Photo/Jon Super, Pool)

Sejak menangani Arsenal, sebagai pengganti Fredie Ljungberg pada 20 Desember 2019, persentase kemenangan Arteta hanya 51,92 persen. Dibandingkan dengan Unai Emery yang dipecat pada 29 November 2019, persentase kemenangan Arteta lebih buruk.

Gaya main Arteta pun terbukti tidak bisa membuat Arsenal seperti meriam yang menakutkan. Hingga pekan ke-14, Pierre-Emerick Aubameyang dan kawan-kawan hanya mencetak 12 gol atau hanya lebih baik ketimbang produktivitas klub-klub macam Sheffield United, West Bromwich Albion dan Burnley.

Beruntung pertahanan Arsenal tak jelek-jelek amat. Kebobolan 18 kali, gawang Bernd Leno setidaknya masih berada di level yang sedikit lebih baik ketimbang Liverpool yang sudah dibobol 17 kali atau Man United yang kebobolan 21 kali.

Tetapi tidak bisa dipungkiri ada dua trofi yang dihasilkan mantan gelandang The Gunners di era Arsene Wenger tersebut, yakni Piala FA 2019/2020 dan Community Shield 2020.

Selain itu Arsenal pun tak ternoda di ajang Liga Europa, dengan mengoleksi kemenangan dari enam laga fase grup menghadapi kesebelasan-kesebelasan yang di atas kertas tak lebih baik dari Arsenal, seperti Molde, Rapid Wien, dan Dundalk.

Arsenal players react after a goal from Manchester City's Riyad Mahrez, not pictured, during the English League Cup quarterfinal soccer match between Arsenal and Manchester City at Emirates Stadium, London, Tuesday, Dec. 22, 2020. (AP Photo/Frank Augstein)Kendati menghasilkan dua gelar pada 2020, Arsenal kini lebih akrab dengan kekalahan bersama Mikel Arteta. (AP Photo/Frank Augstein)

Di saat Massimiliano Allegri, Mauricio Pochettino, Patrick Vieira, Thomas Tuchel, dan Brendan Rodgers sudah disebut-sebut bakal menjadi pengganti Arteta, Arsenal masih menaruh kepercayaan tinggi pada mantan pemain tengah Spanyol tersebut.

Selain dua piala pada tahun ini dan catatan apik di kompetisi Eropa, masih ada hal lain yang membuat Arteta masih berada di Stadion Emirates.

Arsenal bertingkah seperti klub-klub masa lalu yang tidak mengedepankan untung semata dan mempercayai proses sebagai pangkal kesuksesan. Sementara saat ini tidak ada lagi klub yang berpikir seperti itu.

Di saat sepak bola sudah menjadi bisnis yang menuntut gelar, kemenangan, dan trofi yang berujung pada pendapatan berupa pundi-pundi uang, Arsenal sepertinya memilih cara yang tak lagi umum.

GIF Banner Promo Testimoni

Memberi tempat bagi Arteta untuk terus menerapkan visi dan filosofi di lapangan yang untuk sementara tidak membawa senyum bagi fan.

Dengan skuad yang tergolong muda dan beberapa berada di usia emas serta sedikit pemain di usia kepala tiga, Arsenal bisa saja memberi waktu bagi Arteta membentuk tim yang diinginkan. Jika Arteta bertahan hingga Januari di Arsenal, bukan tidak mungkin klub akan mendukungnya dengan belanja pemain baru yang cocok dengan kriteria sang manajer.

Dari sisi manajemen tim, Arteta tampaknya berhasil meyakinkan petinggi-petinggi Arsenal. Pola komunikasi Arteta mungkin disukai ketimbang cara yang dipakai Emery.

Lantas berapa lama Arsenal akan mempersilakan Arteta duduk di bangku manajer? Dengan keberadaan Arteta hingga saat ini, maka perkara sulit menjawab pertanyaan tersebut.

Bahkan seandainya Arsenal kalah dari Chelsea pada laga akhir pekan mendatang, bukan jaminan Arteta akan langsung didepak.

Seandainya Arsenal masuk zona degradasi, bukan tidak mungkin Arteta akan diganti. Namun saat ini bos-bos di Arsenal masih tetap yakin klub yang sudah mengoleksi gelar Liga Inggris itu tidak akan terperosok ke zona merah sehingga Arteta tetap bertahan.

Yang jelas jalan terjal Arsenal bersama Arteta menjadi cobaan bagi Gooners dan Gooneretes yang sudah kadung berharap melihat tim kesayangannya kembali berada di papan atas.

(nva/osc)

[Gambas:Video CNN]






berita olahraga