SEA Games: Indonesia Jangan Buat Atlet Kalah di Luar Arena

Indonesia Jangan Buat Atlet Kalah di Luar Arena-Spekta Sports

Jakarta, CNN Indonesia — Dalam sebuah multi event, kemenangan dan kekalahan adalah sebuah hal biasa. Namun Indonesia tak boleh membiarkan atletnya kalah dengan sebab-sebab yang tak berhubungan dengan arena pertandingan.

Cintya Nariska mencatat waktu terbaik kedua setelah rekan setimnya, Dea Salsabila Putri. Namun tak ada medali perak bagi dirinya di SEA Games 2019.

Cintya terbentur aturan yang menyebutkan bahwa dalam modern pentathlon, hanya atlet terbaik dari tiap negara yang bakal mendapat medali. Hal itu berarti tidak akan ada dua pemenang medali dari negara yang sama.

Aturan tersebut sudah tertulis dan disosialisasikan. Masalah bagi Cintya adalah dia tak tahu peraturan tersebut ada. Karena itu wajar bila air mata Cintya tumpah setelah pertandingan.

Modern Pentathlon Indonesia (MPI) dan CdM Indonesia Harry Warganegara saling membela diri. MPI merasa belum menerima surat, sedangkan Harry menegaskan surat tersebut sudah diteruskan ke pengurus cabang olahraga modern pentathlon.

SEA Games: Indonesia Jangan Buat Atlet Kalah di Luar ArenaDea Salsabila berjaya di cabor modern pentathlon SEA Games 2019. (Dok. NOC Indonesia)

Hal ini tidak boleh dipandang sebagai angin lalu. Kronologi kasus ini harus diungkap jelas sehingga diketahui pangkal kesalahannya.

Cerita lain datang dari Dwi Cindy Desana. Cindy sudah tersenyum bangga memamerkan emas yang melingkar di lehernya. Emas yang didapat Cindy harusnya jadi emas kedua Indonesia di SEA Games 2019.

Namun kemudian emas tersebut dianggap tidak sah dan sempat dicopot dari tabel medali Indonesia. Hingga Kamis (12/11) pagi, status medali Cindy masih menunggu rapat pleno terakhir SEA Games.

Masalah Cindy adalah peserta kompetisi dance sport hanya dua negara yang berarti kurang dari batas minimal peserta. Pengakuan CdM, dance sport awalnya punya peserta memenuhi syarat kompetisi namun kemudian berubah jadi hanya dua negara begitu SEA Games menggelar rapat terakhir.

Kekuatan Indonesia untuk melakukan lobi diuji dalam kasus ini. Indonesia semestinya bisa menekan dance sport untuk bisa dipertandingkan secara sah karena saat entry by number peserta dance sport sudah memenuhi syarat minimal peserta kompetisi.

Kisah kelam atlet Indonesia makin lengkap bila melihat kisah tim hoki. Tim hoki Indonesia sudah tiba di Filipina namun tak mampu berlaga di arena.

SEA Games: Indonesia Jangan Buat Atlet Kalah di Luar ArenaKontingen Indonesia di SEA Games 2019. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)

Tim hoki Indonesia tidak mendapat izin berlaga karena ada dua federasi hoki di Indonesia yang tengah bertikai, Federasi Hoki Indonesia (FHI) ada juga Persatuan Hoki Seluruh Indonesia (PHSI).

Keberangkatan tim hoki yang tak terlacak ‘radar’ CdM Indonesia dan NOC Indonesia juga patut dipertanyakan. Lantaran di kesempatan-kesempatan sebelumnya tak bermasalah, pihak-pihak yang bertanggung jawab seolah melalaikan potensi masalah yang mungkin bisa terjadi.

Pengamat olahraga nasional, Fritz Simanjuntak menganggap banyak pihak yang mesti bertanggung jawab dalam hal kegagalan Tim Hoki Indonesia untuk bertanding.

[Gambas:Video CNN]
“Tidak bisa juga hanya disalahkan NOC yang lama. Buat saya semua salah, cabor, KONI, KOI, CdM dan pemerintah ikut bertanggung jawab jika terjadi masalah-masalah dalam keikutsertaan Indonesia di SEA Games,” terang Fritz.

Fritz justru merasa aneh lantaran boleh-tidaknya tim hoki Indonesia bertanding di SEA Games tergantung pada Raj Kumar Singh, Ketua Umum PHSI. Padahal keikutsertaan hoki di SEA Games membawa nama negara Indonesia, bukan individu.

“Saya heran kenapa pemerintah tidak bisa membekukan kepengurusan hoki Raj Kumar yang memang tidak ada catatan aktivitasnya. Kenapa pemerintah tetap mengizinkan untuk diberangkatkan padahal di situ masih ada masalah. Harusnya sama seperti tenis meja yang tidak dikirim karena bermasalah.”

SEA Games: Indonesia Jangan Buat Atlet Kalah di Luar Arena

“Kalau NOC yang sekarang mendapatkan limpahan tanggung jawab dari kepengurusan lama ya harus dijalankan. Tidak bisa tiba-tiba tidak diberangkatkan. NOC sekarang tidak bisa disalahkan juga,” jelas Fritz.

Belajar dari kasus yang menimpa atlet Indonesia di SEA Games Filipina, pemangku kepentingan olahraga Indonesia [Kemenpora, KONI, Pengurus Cabor, hingga tim CdM Indonesia yang bertugas] harus memahami bahwa mempersiapkan atlet bukan hanya sekadar mempersiapkan teknik dan fisik untuk bertanding di arena, melainkan juga memastikan mereka legal dan sah berada di sana serta memahami peraturan yang ada.

Jangan sampai ada air mata atlet yang tumpah bukan karena kalah, melainkan karena gagal bertanding, medali tidak sah, atau karena tahu peringkat dua miliknya jadi tidak berarti apa-apa. (bac/bac)





berita olahraga