Manchester City

Liga Inggris Kembali Kala Pandemi, Perjudian Dimulai-Spekta Sports

Jakarta, CNN Indonesia — Liga Inggris seolah bersiap bangkit dari ‘koma’ karena pandemi virus corona (Covid-19). Liga dihentikan sejak laga terakhir antara Leicester City vs Aston Villa pada 9 Maret waktu setempat.

Meski harus menjalani protokol kesehatan di era New Normal, restart Liga Inggris diharapkan bisa membangkitkan kegairahan industri sepak bola di sana.

Di sisi lain, perjudian dimulai dengan kembalinya Liga Inggris di tengah pandemi Covid-19 yang belum berakhir.
Sebelumnya, Covid-19 menimbulkan efek psikologis bagi dunia: ketidakpastian. Hantu itu pula yang menjadi momok bagi industri sepak bola, terutama di daratan Eropa.

Bagaimana tidak, sepak bola profesional merupakan bisnis raksasa di sejumlah negara, terlebih di Inggris, Spanyol, dan Italia.

Liga Inggris yang dikenal paling glamor dan menjanjikan, ikut merasakan krisis hebat di Liga Inggris.

Klub-klub menjerit. Sebagian besar bahkan sempat melakukan pemotongan gaji terhadap pemain.

Meski demikian, upaya itu kerap mengalami jalan buntu. Pasalnya, para pemain yang tergabung dalam Asosiasi Pesepakbola Profesional Inggris (PFA) menolak pemotongan gaji oleh klub.

Aston Villa's Conor Hourihane vies for the ball with Leicester's Jonny Evans, right, during the English Premier League soccer match between Leicester City and Aston Villa at the King Power Stadium, in Leicester, England, Monday, March 9, 2020. (AP Photo/Rui Vieira)Laga terakhir Liga Inggris antara Leicester City vs Aston Villa sebelum dibekukan sementara. (AP/Rui Vieira)

Alasannya, mereka juga berkontribusi banyak dari gaji untuk melakukan donasi kepada para staf medis. Para pemain ini mengklaim menjadi garda terdepan dengan menyumbangkan gaji mereka untuk melawan Covid-19.

Klub-klub makin terjepit. Alhasil, klub seperti Tottenham Hotspur dan Newcastle United bersiasat dengan mengorbankan para staf.

Mereka terpaksa melakukan furlough atau merumahkan staf klub tanpa gaji. Kebijakan ini sempat mengundang kritikan dari publik bahkan dari Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock.

Pasalnya, klub-klub tersebut memanfaatkan Skema Retensi Pekerjaan selama darurat pandemi Covid-19. Sementara para pemain dan petinggi klub justru aman dari pemotongan gaji.

Terhitung 100 hari lamanya Liga Inggris mengalami ‘lockdown’. Dalam masa tersebut, sempat ada usulan agar kompetisi itu dihentikan.

Namun, ide itu ditolak mentah-mentah oleh Direktur Eksekutif Premier League, Richard Masters. Dia mengklaim, Liga Inggris bakal mengalami kerugian yang teramat besar apabila dihentikan sama sekali.

A fan wearing a protective mask attends at the English Premier League soccer match between Liverpool and Bournemouth at Anfield stadium in Liverpool, England, Saturday, March 7, 2020. (AP Photo/Jon Super)Laga Liverpool vs Bournemouth pada 7 Maret, sejumlah penonton sudah mulai mengenakan masker. (AP Photo/Jon Super)

Total kerugian bisa mencapai 1 miliar poundsterling atau setara Rp17,8 triliun.

“Kami akan mengalami kerugian 1 miliar poundsterling [Rp17,8 triliun] jika kami gagal melanjutkan musim 2019/2020. Kerugian susulan akan terus terjadi jika keseriusan pandemi semakin dalam dan panjang ke masa depan,” ucap Masters pada 7 April dilansir dari Sky Sports.

“Ini bukan hanya berdampak buruk terhadap keuangan 20 klub Premier League, namun juga akan menimbulkan kerugian sangat besar di seluruh elemen sepak bola profesional.”

Kerugian terbesar tersebut berasal dari hak siar televisi dan sponsor kompetisi.

Pernyataan Masters menjadi isyarat: Liga Inggris harus bangkit dari mati suri.

Kans Liga Inggris kembali mulai menemukan secercah harapan pada 15 Mei. Sekretaris Negara untuk Digital, Kebudayaan, Media, dan Olahraga, Oliver Dowden, memberikan isyarat positif Liga Inggris bisa digelar pada Juni.

Pernyataan itu pun ditindaklanjuti dengan rapat antara operator dan klub-klub Premier League pada 27 Maret. Alhasil, klub-klub sepakat akan melakoni kembali Liga Inggris pada 17 Juni.

Kompetisi pun digelar dengan serangkaian protokol kesehatan di era New Normal. Di antaranya adalah laga tanpa penonton dan tes Covid-19 bagi seluruh pemain, staf, dan semua pihak sepekan sebelum laga. Laga juga harus dilakukan dengan memperhatikan kebijakan menjaga jarak fisik antara pemain.

Liverpool's Georginio Wijnaldum, left, celebrates with teammate Virgil van Dijk after scoring his team's first goal during the English Premier League soccer match between Liverpool and West Ham at Anfield Stadium in Liverpool, England, Monday, Feb. 24, 2020. (AP Photo/Jon Super)Secercah harapan bagi Liverpool untuk bisa juara setelah Liga Inggris dinyatakan kembali. (AP Photo/Jon Super)

Meski demikian, rencana kompetisi itu kembali bergulir bukan tanpa risiko di depannya. Salah satu yang disoroti adalah keselamatan dan kesehatan para pemain di lapangan.

Sejumlah kalangan, terutama dari pakar medis menilai, para pemain yang bakal dikorbankan. Risiko paling mendasar adalah ancaman cedera pemain yang menghantui laga-laga tersebut.

Klub-klub memang ada yang mulai menggelar latihan pada awal Mei. Meski demikian, waktu tersebut dinilai tak ideal mengingat masa vakum kompetisi yang lebih lama sejak 13 Maret.

Bukan sekadar rehat, para pemain juga harus menjalani karantina mandiri di rumah masing-masing selama pandemi. Tak banyak aktivitas di luar rumah bagi para pemain untuk menjaga kebugaran.

Terlebih, grafik pandemi Covid-19 yang belum kunjung landai di Inggris, menambah kekhawatiran tersebut.

Salah satu konsultan Asosiasi Keselamatan Sepak Bola, John Newsham mengatakan, masih banyak hal yang harus dipenuhi apakah laga-laga itu benar-benar aman dimainkan selama pandemi.

“Tak boleh ada satu nyawa pun dalam posisi dikorbankan karena uang. Pertandingan dihentikan atau tak bisa dimainkan memang karena alasan keselamatan. Tidak relevan [dilanjutkan] hanya karena masalah siaran di Sky,” ujar Newsham dikutip dari Guardian.

“Ini amat mengkhawatirkan bagi saya jika uang televisi yang menjadi motivasi orang-orang. Nyawa yang utama, tak ada kaitannya dengan uang,” dia menambahkan.

Profesor Mikrobiologi dari Universitas Reading, Dr Simon Clarke, bahkan menyebut gelaran kembali olahraga profesional termasuk Liga Inggris terlalu prematur digelar pada Juni. Pasalnya, dia menilai pandemi bahkan belum menunjukkan penurunan pada Juni.

“Di bulan ini bahkan kita masih tak diperbolehkan datang mencukur rambut atau mungkin kita belum bisa berkumpul bersama teman-teman. Saya pikir ini terlalu dini.”

“[Klub-klub] tidak benar-benar membuat publik dalam bahaya. Mereka membuat para pemain, aset utama mereka dalam bahaya. Begitu pula para staf,” kata Clarke dikutip dari Forbes.

Para pemain seperti bek Newcastle United, Danny Rose dan penyerang Manchester City, Raheem Sterling, juga pernah mengungkapkan kekhawatiran jika Liga Inggris kembali dimainkan selama pandemi Covid-19.

“Pemerintah menyatakan akan membawa kembali sepak bola untuk mendongkrak semangat negeri ini. Saya tak peduli dengan moril nmegara. Nyawa manusia dalam bahaya.”

Sepak bola seharusnya belum boleh bahas soal kembali bermain hingga jumlah [positif dan meninggal karena corona] benar-benar menurun secara besar. Ini konyol,” ujar Rose dikutip dari Guardian.

Bagaimanapun, tak ada kepastian pula mengenai fase pandemi Covid-19 melandai hingga turun. Di sisi lain, Liga Inggris semakin kehabisan waktu untuk melanjutkan kompetisi.

Satu-satunya yang dilakukan adalah dengan berjudi menembus gelombang Covid-19. (jun)

[Gambas:Video CNN]





berita olahraga