Mohammad Nasuha: Mafia Sepak Bola Tidak Bisa Dibuktikan

Mafia Sepak Bola Tidak Bisa Dibuktikan-Spekta Sports

Jakarta, CNN Indonesia — Mantan bek Timnas Indonesia di Piala AFF 2010, Mohammad Nasuha, kini memilih menjadi asisten pelatih Perserang Serang di Liga 2.

Nasuha pensiun lebih cepat karena cedera lutut. Pemain kelahiran Serang itu mengaku punya banyak kenangan semasa bermain, mulai dari di Sriwijaya FC, Persija Jakarta, Persib Bandung, hingga di Timnas Indonesia.

Pemain yang pernah berkostum Persikota Tangerang itu juga tidak bisa melupakan kegagalan Timnas Indonesia di final Piala AFF 2010, yang memunculkan isu skandal mafia.
Bagaimana Mohamad Nasuha menceritakan perjalanan kariernya di sepak bola, berikut wawancaranya dengan CNNIndonesia.com:

Apa kesibukan Anda selama karantina karena pandemi Covid-19?

Menganggur saja di rumah. Mau latihan ke lapangan tidak boleh. Jadi ya menghabiskan waktu sama keluarga saja sambil jaga kesehatan.

Di Serang sih masih aman-aman saja. Kondisi di sini biasa saja, tidak terlalu bagaimana gitu [rawan]. Masih zona hijau.

Mohammad Nasuha (kanan).Mohammad Nasuha (kanan). (AFP PHOTO / ADEK BERRY)

Kegiatan Anda selama menjalani karantina seperti apa?

Nonton Youtube. Melihat kenangan saja waktu masih main, jadi ingin main lagi. Cuma kan sudah enggak bisa. Kangen kumpul sama teman-teman di lapangan, latihan bareng, bisa main bola lagi.

Kangen juga bisa main sama Timnas Indonesia, main sama klub. Kalau di tim kan senang pas latihan bercanda bareng teman-teman. Sekarang bisa injak rumput lapangan saja sudah senang banget.

Saya sudah hampir delapan tahun tidak main di liga. Kadang suka bagaimana gitu lihat teman-teman masih main, tapi saya enggak bisa.

[Gambas:Video CNN]

Apa alasan yang membuat Anda memilih pensiun lebih cepat?

Karena saya cedera. Cederanya waktu main di Persib Bandung melawan Persija Jakarta di Stadion GBK, itu tahun 2012. Saya salah tumpuan ketika lari, lutut kiri cedera.

Kondisinya saya sudah maksimal fisioterapi, tapi ternyata kaki masih sakit saja kalau diajak main ke lapangan.

Dua tahun saya fisioterapi. Tahun 2014 bisa main lagi, waktu itu di Cilegon tampil di Liga 2 sambil pemulihan, terus kena lagi cedera di posisi yang sama.

Setelah itu hampir setahun saya tidak bisa apa-apa. Lalu coach Rahmad Darmawan tanya saya ‘Mau main lagi enggak?’ Saya jawab ‘Iya coach mau main lagi.’

Akhirnya ada yayasan kasih saya operasi gratis tahun 2015. Setelah itu sampai sekarang saya enggak bisa main lagi. Berjalannya waktu sebenarnya saya sudah bisa main bola lagi, tapi tidak bisa intensitas tinggi. Main bola buat senang-senang saja.

[Gambas:Instagram]

Sepanjang karier Anda menjadi pesepakbola, di klub mana yang paling berkesan?

Semua klub ada kesan buat saya, tapi yang paling berkesan ketika bisa juara Piala Indonesia bersama Sriwijaya FC dua kali di musim 2008/2009 dan 2009/2010. Sama Persija juga sempat dapat peringkat ketiga musim 2010/2011.

Jika diminta memilih, Persib atau persija?

Dua-duanya. Karena dua-duanya punya suporter luar biasa. Suporter dua tim itu menurut saya yang paling berkesan.

Persija punya suporter yang loyal. Ketika kami menang ataupun kalah mereka tetap dukung tidak ada yang menjatuhkan. Animo suporternya juga luar biasa.

Persib juga sama punya suporter yang luar biasa. Dua-duanya tidak bisa saya lupakan.

Pernah diteror suporter saat memutuskan pindah dari Persija ke Persib?

Bagi saya, waktu itu tidak melihat sisi mereka [suporter] akur atau enggak. Jadi karena saya profesional ketika saya dipercaya satu tim ya sudah all out.

Di media sosial, banyak yang menyebut saya pengkhianat. Sedih sih, tapi ya sudahlah. Buat saya wajar saja kalau suporter bilang begitu karena mereka sayang sama kita. Jadi saya tidak ambil pusing.

Jujur ketika saya aktif bermain, saya jarang main medsos. Karena kalau kita aktif di medsos itu ada komen bagus, ada yang jelek, jadi bisa ganggu konsentrasi.

Apa momen paling berkesan buat Anda saat menjadi bagian dari Timnas Indonesia di Piala AFF 2010?

Final Piala AFF 2010, senang, bangga bisa cetak gol di final walaupun agregat kami kalah. Keadaan di ruang ganti setelah itu kecewa karena memang kami kalah dan tidak bisa juara. Tapi, pelatih Alfred Riedl tetap apresiasi kami walaupun kalah agregat, tapi menang di kandang.

Gol waktu itu saya dapat bola reborn dari sontekan Ahmad Bustomi. Bola datang lalu saya shooting dari dalam kotak penalti, langsung masuk.

Bagaimana dengan tudingan mafia pada waktu itu?

Soal mafia sebenarnya waktu itu tidak ada bagaimana-bagaimana. Kami juga mau juara, tapi setelah final itu kami kalah, ada isu-isu seperti itu saya tidak bisa bilang apa-apa.

Pribadi saya dan teman-teman waktu itu tidak ada yang namanya mau kalah di final. Enggak mungkin kami mau kalah. Kalau pun benar misalnya ada mafia juga tidak bisa dibuktikan.

Sebagai pemain saya dan teman-teman, kalau nama saya disebut ya sakit hati. Kembali ke sikap pemain masing-masing saja.

https://www.cnnindonesia.com/

Masih ingat proses gol ketika Anda membawa Timnas Indonesia menang atas Turkmenistan di Kualifikasi Piala Dunia 2014?

Itu berkesan juga bisa cetak gol sama Timnas Indonesia. Tidak disangka juga, semua atas izin Allah.

Gol waktu itu lewat serangan dari sisi kiri dari M. Ridwan, terus dia melewati lawan, bola dikembalikan ke saya, lalu saya tendang dari luar kotak penalti dan gol.

Bagaimana cerita awal Anda bisa menjadi Asisten Pelatih di Perserang Serang?

Awalnya setelah sudah tidak bermain lagi. Waktu itu saya juga sudah ambil lisensi dan diminta buat bantu-bantu di Perserang, ya sudah saya bersedia.

Sebenarnya sejak 2018 itu sudah ditawarkan buat jadi asisten, tapi kebetulan pelatih saat itu bawa asisten juga, jadi saya tidak enak. Karena waktu itu juga baru dapat lisensi C AFC, jadi saya mau cari pengalaman dulu.

Apa benar Perserang belum bayar gaji ke pemain dan pelatih?

Benar, kami belum gajian. Bahkan tahun lalu masih ada sisa tunggakan satu bulan sebesar 75 persen gaji yang belum dibayar ke pelatih dan pemain.

Sampai saat ini kami minta kebijaksanaan manajemen untuk bisa menyelesaikan gaji satu bulan kerja kami yang belum dibayar. Dari awal pertengahan Februari sampai Maret ini juga belum dibayar. Kemarin dijanjikan tanggal 5 April dibayar, tapi belum juga.

Sebenarnya kami juga paham kondisi saat Ini tidak memungkinkan. Tapi pemain yang sudah berkeluarga mengandalkan gaji satu bulan ini. Semua berharap sekali, karena tidak ada lagi yang bisa diharapkan.

Saya juga prihatin sama kondisi ini. Liga 2 gajinya tidak seperti Liga 1. Kalau Liga 1 masih bisa napas enak.

Apa Anda punya bisnis lain di luar pekerjaan di sepak bola?

Jualan, bantu istri jual baju gamis syari. Saya sewa kios kecil di dekat rumah. Sempat jual online tapi kalah saing, karena daya beli juga kan sekarang berkurang.

Pemasukan lain tidak ada. Tabungan juga sudah habis. Namanya hidup kalau kita tidak ada pemasukan ya ambil dari tabungan, lama-lama habis. Jadi sekarang pemasukan dari jualan saja.

Bisa diceritakan awal ketertarikan Anda bermain sepak bola?

Dulu awalnya dari suka nonton sepak bola di televisi, Liga Inggris. Lihat lapangan bola bagus, orang bisa cetak gol bagus-bagus jadi saya terinspirasi.

Sama kalau Timnas Indonesia main kan seru, ramai yang nonton. Ya main bola hobi dari kecil sebenarnya.

Terus masuk SSB Krakatau Steel. Tapi saya telat masuknya sudah SMP, latihannya seminggu tiga kali. Lalu magang dulu lima tahun di Pelita KS tim junior, baru naik ke senior dan seterusnya.

Kabarnya Anda sudah fasih membaca Al Quran sejak kecil?

Belajar mengaji biasa saja sebenarnya, sudah jadi kebiasaan saya di kampung sejak kecil. Saya belajar mengaji setiap habis magrib di rumah Pak Ustaz dekat rumah.

Orang tua saya juga minta semua anaknya harus bisa mengaji. Dulu kalau belajar mengaji sambil diteriak-teriakin, dibentak karena kalau mengaji salah terus.

Saya benar-benar niat bisa baca Al Quran kelas lima SD, karena waktu itu takut kelas 6 ada ujian baca Quran. (TTF/sry)





berita olahraga