Apriyani: Main Rangkap Tak Terlalu Melelahkan

Main Rangkap Tak Terlalu Melelahkan-Spekta Sports

Jakarta, CNN Indonesia — Pebulutangkis Indonesia, Apriyani Rahayu kini menjalani peran barunya sebagai pemain rangkap. Selain tampil di ganda putri bersama Greysia Polii, mulai awal 2020 ini ia juga bermain di ganda campuran bersama Tontowi Ahmad.

Apri dan Tontowi gagal ke perempat final Indonesia Masters 2020 setelah kalah dari ganda campuran Inggris, Chris Adcock/Gabrielle Adcock, Kamis (16/1). Sementara bersama Greysia, Apri melewati babak 16 besar.

Di ganda putri, Apriyani pernah meraih medali perak di Kejuaraan Dunia Junior ketika berpasangan dengan Rosyita Eka Putri Sari pada 2014. Ia juga peraih perunggu di ganda campuran Kejuaraan Dunia Junior 2015 bersama Fachriza Abimanyu.

Menginjak level senior, Apriyani yang saat ini masih berusia 21 tahun juga pernah mempersembahkan medali perunggu di Asian Games 2018 bersama Greysia.

Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) mulai 2020 memberikan kepercayaan kepada Apriyani untuk dipasangkan dengan Tontowi, peraih medali emas Olimpiade 2016 Rio de Janeiro, Brasil bersama Liliyana Natsir.

Bagaimana Apriyani menyikapi peran barunya sebagai pemain rangkap dan arti seorang Liliyana Natsir dalam kariernya di dunia bulutangkis?

Berikut wawancara khusus CNNIndonesia.com bersama Apriyani di sela-sela Indonesia Masters 2020:

Apa yang berbeda antara ganda putri dan ganda campuran?

Sebenarnya perbedaannya simpel bagaimana saat main di depan, bagaimana saat di belakang. Kalau di depan bisa mengatur bola, enggak? karena main di ganda putri dan ganda campuran itu polanya berbeda.

Apriyani: Main Ganda Campuran Tak Terlalu MelelahkanTontowi/Apriyani gagal ke perempat final Indonesia Masters 2020. (FOTO/Aditya Pradana Putra/pd)

Jadi PR [Pekerjaan Rumah] saya ke depannya di ganda campuran harus bisa mengatur saat berada di depan. Secara individual kami juga harus saling tahu kekurangan dan kelebihan masing-masing supaya bisa saling menutupi, bukan hanya main pola saja.

Bagaimana Anda menjaga fisik karena bermain rangkap?

Tergantung bisa jaga fisiknya atau enggak, menjaga waktu tidur, waktu makan juga penting. Kalau di ganda campuran, jadi ceweknya tidak terlalu melelahkan sebenarnya karena cuma mengatur di depan, sekali- dua kali saja di belakangnya. kalau ganda putri kan rally terus dan itu yang bikin capek. Sebenarnya kalau dinikmati pertandingannya juga tidak terasa [lelah].

Apriyani: Main Ganda Campuran Tak Terlalu Melelahkan

Saya harus bisa menjaga pola latihannya, mulai penguatan dan yang lain. Latihan fisik juga harus ditambah sendiri di luar latihan di pelatnas.

Greysia menyebut Anda pemain ‘Kebo‘ maksudnya apa?

Bagaimana ya menjawabnya, hehehe. Sebenarnya saya dibilang ‘kebo‘ karena mungkin dari saya sendiri saya kuat, tapi saya enggak mau bilang begitu. Secara fisik saya kuat. Tapi itu semua bagaimana cara berpikir kita sendiri sebenarnya.

Jadi main rangkap secara fisik saya tidak masalah. Saya hanya perlu penyesuaian main dengan Mas Owi bagaimana. Itu saja.

Merasa beban main rangkap?

Tidak merasa beban sama sekali karena saya mencoba menikmati saja semua pertandingan. Saya jadi partner Mas Owi juga jadi semakin semangat, bukan beban. Ada motivasi lain karena saya berpasangan dengan juara dunia dan juara Olimpiade, siapa yang tidak mau coba? Justru jadi makin semangat saya.

Apriyani/Greysia lolos ke babak perempat final Indonesia Masters 2020. Apriyani/Greysia lolos ke babak perempat final Indonesia Masters 2020. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Sama Mas Owi di ganda campuran saya harus benerin main depan saya. Harus bisa mengatur dan bisa masuk di pola mainnya Mas Owi saja.

Makanya, seperti yang Mas Owi bilang, saya harus sering nonton video waktu Mas Owi dan Cik Butet [Liliyana Natsir] main. Bukan untuk menjadi seperti Cik Butet, tapi melihat bagaimana posisi mainnya Cik Butet. Saya harus belajar karena kenyataannya tidak semudah itu.

Bagaimana perasaan Anda dibanding-bandingkan dengan Liliyana Natsir?

Tidak apa-apa saya dibandingkan dengan Cik Butet, karena saya seperti saat ini juga terinspirasi sama beliau. Waktu main di ganda putri saja sudah terinspirasi Cik Butet, apalagi sekarang main di campuran.

Saya memang sangat mengagumi Cik Butet. Saya belajar banyak dari beliau. Orang lain mungkin tidak tahu kalau saya sering mempelajari video main Cik Butet sejak lama karena saya pecinta Cik Butet. Jadi kalau dibanding-bandingkan saya tidak masalah. Biarkan saja. Toh, dibanding-bandingkannya dalam hal positif, bukan negatif.

Kalau ada yang bilang “Apri enggak bisa net”, ya tidak apa-apa. Memang saya tidak bisa tapi saya belajar terus supaya bisa. Makin ke sini makin banyak pengalamannya jadi semoga bisa jadi semakin lebih baik.

Menurut Anda, apa kamu berprospek meraih prestasi bersama Tontowi?

Pastinya saya dipasangkan sama Mas Owi ada tujuannya, bukan tanpa target. Pasti berharap ada prospek prestasi yang bagus ke depannya.

Buktinya pas tahu mau dipasangkan, Mas Owi semangat ya saya juga lebih semangat. Bahkan saya semangat banget mau membuktikan juga, mau berprestasi.

Tapi orang-orang ekspektasinya terlalu jauh sama saya dan Mas Owi. Seperti di sini, Indonesia Masters saya harus sampai final. Mereka tidak tahu ini baru saja main, ini turnamen pertama.

Kami saja tidak pernah latihan bareng di Cipayung sebelumnya, kecuali sekali sebelum natal. Setelah itu Mas Owi liburan tidak latihan. Jadi Indonesia Masters ini anggap saja latihan saya sama Mas Owi. (TTF/bac)





berita olahraga