Memandang Status Legenda Tontowi Ahmad dengan Mata Terbuka-Spekta Sports

Jakarta, CNN Indonesia — Tontowi Ahmad resmi menutup karier di dunia badminton pada 18 Mei 2020. Salah satu perjuangan berat dalam karier Tontowi adalah keluar dari bayang-bayang kebesaran Liliyana Natsir.

Pada suatu siang di Pelatnas Cipayung, 2010, Richard Mainaky memutuskan Tontowi Ahmad yang jadi pasangan duet berikutnya bagi Liliyana Natsir.

Keputusan rekan duet Liliyana saat itu terasa begitu vital. Indonesia tengah kering prestasi. Hanya segilintir pemain produksi pelatnas PBSI yang bisa bersaing di papan atas dan jadi pebulutangkis elite dunia.
Belum lagi sejumlah fakta bahwa banyak bintang-bintang senior yang tengah berada di luar pelatnas pada periode tersebut, seperti Taufik Hidayat, Vita Marissa, Markis Kido, dan Hendra Setiawan.

Siapapun duet Liliyana, dipastikan ia akan mendapat beban yang sangat berat di tahun-tahun yang akan datang. Tontowi kemudian terpilih untuk tugas itu dan komentar-komentar awalnya adalah tekad untuk bekerja keras agar bisa menjadi partner yang sesuai untuk Liliyana.

Pasangan ganda campuran Tantowi Ahmad - Liliyana Natsir berhadapan dengan pasangan Taiwan Lee Yang dan Hsu Ya Ching pada babak 16 besar Daihatsu Indonesia Master di Istora Senayan, Jakarta 25 Januari 2018. Tantowi dan Liliyana menang dengan skor 21-12 dan 21-10. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)Tontowi Ahmad berjuang keras untuk bisa jadi rekan duet yang pantas bagi Liliyana Natsir. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Kalimat yang sederhana tersebut tentu jadi sebuah situasi yang kompleks bagi Tontowi. Liliyana Natsir sudah berada di tempat yang tak tersentuh ketika ia berduet dengan Tontowi.

Liliyana sudah memiliki nama di bulutangkis dunia saat dipasangkan dengan Tontowi. Liliyana meraih banyak sukses bersama Nova Widianto, termasuk merebut medali perak Olimpiade 2008.

Karena itu, segala sebab kekalahan yang diterima oleh Tontowi/Liliyana kemudian pada akhirnya ditimpakan kepada sosok Tontowi Ahmad.

Salah satunya tentu adalah kekalahan di Olimpiade 2012. Tontowi dianggap tidak cukup fokus untuk jadi duet Butet. Kehidupan Tontowi di luar lapangan, termasuk hubungannya dengan Michelle, pacar yang kemudian jadi istrinya ikut disorot.

Dalam situasi di media sosial pada 2012, kontras terjadi antara Tontowi dan Liliyana. Ketika Liliyana terus kebanjiran puja dan puji, Tontowi justru sering menghadapi caci maki.

Ketika Tontowi/Liliyana sudah berhasil menciptakan hattrick All England dan juara dunia 2013, Tontowi tetap tak lepas dari beban sebagai kambing hitam di tiap kekalahan.

Salah satu kekalahan yang mencolok dan memberi tekanan besar adalah semifinal Kejuaraan Dunia 2015. Kesalahan Tontowi ketika Owi/Butet unggul di gim kedua dianggap penyebab kegagalan Tontowi/Liliyana lolos ke final dan jadi juara.

Tontowi, Belahan Hati Terbaik Liliyana

Semua sepakat bahwa Liliyana Natsir adalah sosok istimewa. Ia sudah bergelimang prestasi sejak usia belia, termasuk juara dunia ketika usianya belum genap 20 tahun.

Namun hal itu tidak seharusnya membuat peran Tontowi dalam duet Owi/Butet menjadi dikerdilkan.

Tontowi punya porsi yang sama besar dengan Butet dalam proses keberhasilan duet ini jadi yang terbaik sepanjang sejarah ganda campuran Indonesia. Semua mata harus terbuka melihat Tontowi punya kemampuan yang membuatnya layak jadi legenda.

Menjadi rekan duet Liliyana, butuh mental kuat yang siap menanggung tekanan besar. Selama hampir sembilan tahun berpasangan, Tontowi mampu membuktikan kekuatan mental itu.

Tontowi mampu bangkit dari kekalahan di Olimpiade 2012 untuk kemudian jadi juara All England dan juara dunia di tahun berikutnya. Ketika Tontowi/Liliyana tertinggal 18-20 dari Xu Chen/Ma Jin di final Kejuaraan Dunia 2013, banyak poin yang dihasilkan Tontowi untuk akhirnya membuat Owi/Butet menang 22-20 di gim penentuan.

imam nahrawi-Liliyana Natsir-Tontowi Ahmad-Raja SaptaoktohariTontowi Ahmad dan Liliyana Natsir saat meraih medali emas Olimpiade. (CNN Indonesia/Putra Tegar)

Ketika duet Tontowi/Liliyana mulai renggang di 2015 hingga awal 2016, Tontowi berhasil mengalahkan ego dalam diri untuk kembali kerja keras.

Ketika hasil-hasil sebelum Olimpiade menyudutkan peluang juara Tontowi/Liliyana, kerja keras Tontowi dan Liliyana berujung pada performa sempurna berujung medali emas di Olimpiade Rio de Janeiro.

Saat Liliyana Natsir cedera usai Olimpiade, Tontowi tak memiliki niatan untuk bertukar pasangan demi mempersiapkan Asian Games 2018 dan Olimpiade 2020. Tontowi tetap setia bersama Liliyana, ketika Butet memutuskan menunda pensiun.

Tanpa Liliyana Natsir, Tontowi mungkin tidak akan bisa bersinar seperti saat ini karena duet dengan Liliyana yang mengubah jalur prestasi Tontowi seolah masuk jalur cepat.

Namun hal yang sama juga berlaku sebaliknya. Tanpa Tontowi, Liliyana Natsir belum tentu bisa juara All England, juara Olimpiade, plus mendapat dua gelar juara dunia tambahan.

Tontowi adalah sosok yang tak menyia-nyiakan kesempatan yang telah datang pada dirinya. Semua gelar yang didapat adalah kerja keras Tontowi dan Liliyana bersama, dengan usaha yang sama rata.

Dan kini ia bisa dengan bangga menutup karier dan bergabung ke grup elite pemain Indonesia yang telah memenangkan gelar All England, juara dunia, dan juara Olimpiade dalam perjalanan kariernya.

Selamat meninggalkan lapangan badminton…

Selamat menempuh perjalanan baru, Tontowi Ahmad! (har)





berita olahraga