Pengeluaran Klub Membengkak Jika Liga 1 2020 Dilanjutkan

Pengeluaran Klub Membengkak Jika Liga 1 2020 Dilanjutkan-Spekta Sports

Jakarta, CNN Indonesia — Pengeluaran klub diprediksi bakal membengkak jika Liga 1 2020 dilanjutkan di tengah kondisi new normal pasca pandemi wabah covid-19.

Beberapa kesebelasan kontestan Liga 1 2020 seperti Persiraja Banda Aceh dan Persib Bandung mendukung penyelenggaraan Liga 1 2020.

Tak dipungkiri untuk menjalankan kompetisi di situasi pandemi global virus corona membutuhkan biaya tambahan untuk memastikan keamanan dan keselamatan pemain, seperti pengujian Covid-19 terhadap pemain dan staf klub.
Persiraja menyatakan siap mengikuti arahan pihak terkait, termasuk tes virus corona, agar tetap mendapat pemasukan dari kehadiran penonton.

“Enggak masalah [harus tes setiap pertandingan dan menjalankan SOP] daripada harus tanpa penonton,” sebut Sekretaris Umum Persiraja Rahmat Djailani kepada CNNIndonesia.com.

Pesepak bola Persik Kediri Nikola Asceric (kiri) menggiring bola dibayang-bayangi pesepak bola Persiraja Banda Aceh Luis Irsandi (kanan) saat pertandingan Liga 1 2020 di stadion Brawijaya, Kota Kediri, Jawa Timur, Sabtu (14/3/2020). ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/foc.Kesebelasan-kesebelasan kontestan Liga 1 2020 baru memainkan tiga laga. (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/foc)

Rahmat mengakui jika penerapan SOP Covid-19 itu membutuhkan dana yang besar. Bahkan, dana hak komersial dari LIB saja disebut tidak cukup untuk operasional tim.

“Jangankan buat menambah protokol kesehatan, untuk operasional selama ini saja enggak cukup. Tapi kan klub enggak boleh tergantung dari itu [subsidi]. Kalau kompetisi jalan, kemudian ada penonton, klub pasti ada pemasukan dan itu bisa ikuti semua protokol kesehatan karena klub sudah ada pemasukan. Kalau tidak dengan penonton, bubar saja. Jangan lanjutkan liga,” tegas Rahmat.

GIF Banner Promo Testimoni

Persib juga menyatakan merogoh kocek tambahan demi mengikuti standar prosedur di masa pandemi Covid-19. Direktur Persib, Teddy Tjahjono, mengatakan hal tersebut merupakan risiko yang harus diambil demi keberlangsungan liga di tengah kondisi berbeda seperti saat ini.

“Ya, harus siap dan kami akan bujetnya. Ya, kita harus siap dengan tatanan baru dengan prioritas kesehatan,” ujar Teddy.

Sebelumnya Direktur Utama PSIS Semarang yang juga menjabat anggota Komite Eksekutif PSSI Yoyok Sukawi menerangkan kelanjutan Liga 1 2020 tidak akan semudah dan semurah sebelumnya.

Selain tes Covid-19, pembatasan pergerakan orang dari satu wilayah ke wilayah lain juga harus diperhatikan seperti penerapan Surat Izin Keluar Masuk di wilayah DKI Jakarta.

“Jika sistem dan format lama dengan subsidi lama di kondisi seperti ini, ya tidak cukup dan pasti klub tidak mau. Ini bukan soal akomodasi saja, tapi untuk menggelar pertandingan biaya SOP-nya besar,” ucap Yoyok.

[Gambas:Video CNN] (ttf/nva)





berita olahraga