https://www.cnnindonesia.com/

Tentara Juara Dunia Tinju Berawal dari Rp5000-Spekta Sports

TESTIMONI

Ongen Saknosiwi, CNN Indonesia | Senin, 25/11/2019 18:52 WIB


Jakarta, CNN Indonesia — Saya Ongen Saknosiwi, lahir di Desa Wanibe, Pulau Buru, Maluku Tengah tahun 1994. Saya lahir dari keluarga yang sangat sederhana. Bapak saya petani dan ibu saya ibu rumah tangga.

Saya anak kedua dari lima bersaudara. Kami hidup dalam serba keterbatasan. Tetapi orang tua terus berjuang menghidupi kami. Kakak saya berhenti sekolah dan kemudian membantu bapak saya bekerja untuk menghidupi kami berempat untuk bersekolah.

Saat saya kecil, saya belum tentu bisa makan nasi dalam satu hari. Sebagai anak kecil, saya suka olahraga sepak bola. Tetapi saya juga minat dengan olahraga tinju karena bapak saya sering menonton tinju.

Sebagai anak yang tumbuh remaja, saya belum berlatih tinju secara langsung. Tetapi saya sudah sering terlibat perkelahian. Tanpa teknik tinju.

Entah itu satu lawan satu atau tawuran. Hal itu saya anggap sebagai sebuah kenakalan remaja karena sebab perkelahian bisa apa saja.

Ongen SaknosiwiOngen Saknosiwi sulit jajan semasa sekolah karena tidak memiliki uang. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)

Saya baru mengenal tinju pada usia 17 ketika pindah ke Ambon. Saya pindah karena di kampung saya tidak ada sekolah SMA. Akhirnya saya ikut salah satu keluarga saya agar bisa bersekolah SMA di Ambon.

Kondisi keuangan saya pas-pasan saat SMA. Bahkan saya sering tidak makan saat istirahat sekolah karena tidak punya uang. Ketika teman-teman saya keluar kelas untuk makan, saya hanya diam saja di kelas.

Saat sekolah SMA di Ambon, hanya beberapa kali saya menerima uang kiriman orang tua. Saya juga berpikir bahwa di kampung masih ada adik-adik saya dan saya tidak ingin membebani orang tua.

Untuk bisa memiliki uang, saya bekerja serabutan. Saya kadang ikut bantu-bantu jadi kuli bangunan. Saya sekolah di pagi hari dan kemudian bekerja sore.

Ongen Saknosiwi mengenal tinju sejak SMA.Ongen Saknosiwi mengenal tinju sejak SMA. (dok. Mahkota Boxing Series)

Mulai Berlatih Tinju

Saat saya kelas tiga, saya datang ke gimnasium dan bertemu pelatih tinju bernama Pak Simon Nahumury. Saya bilang bahwa saya ingin ikut latihan tinju. Pak Simon langsung meminta saya datang esok harinya.

Sejak itu, saya bergabung latihan tinju setiap pulang sekolah. Saya mulai berlatih tinju karena hobi dan ingin berprestasi.

Ketika pertama kali berlatih tinju, saya sama sekali tidak merasa berat dan kelelahan. Mungkin karena sejak kecil saya sudah sering ke kebun, sering kerja keras. Jadi latihan tinju tidak terlalu berat untuk dijalani.

Tiga bulan berlatih tinju, saya ikut kejuaraan. Pertama kali naik ring untuk bertanding, saya merasa gugup. Saya tegang, keluar keringat tetapi merasa udara dingin. Saya demam panggung.
[Gambas:Video CNN]
Tetapi saya langsung jadi juara di turnamen itu. Saya tiga kali main untuk jadi juara. Jadi, tiga bulan turnamen, saya langsung juara.

Setelah menang, saya langsung dapat beasiswa dari sekolah hingga lulus.

Seiring saya aktif mengikuti berbagai turnamen tinju, ada tawaran dari Pak AKP Wim Sapulete [mantan petinju yang juga berprofesi sebagai polisi] untuk melanjutkan karier tinju di Tangerang setelah saya lulus SMA di tahun 2011.

Saat itu, saya hanya modal nekat saja menerima tawaran itu. Setelah saya dibelikan tiket, saya pergi ke Jakarta hanya dengan modal uang Rp5.000 di kantong.

Ongen: Tentara Juara Dunia Tinju Berawal dari Rp5000

Karena hanya punya Rp5.000, saat pesawat transit di Makassar, saya tidak makan sama sekali. Mau beli apa di bandara dengan uang Rp5.000?

Setelah tiba di Tangerang, saya berlatih di sasana milik Pak Wim. Saya berutang budi pada beliau dan keluarganya karena mereka yang menampung saya selama di Tangerang.

Cita-cita Jadi Prajurit TNI Terwujud, Tinju Tetap Lanjut


BACA HALAMAN BERIKUTNYA







berita olahraga