Polda Jateng Bentuk Satgas Anti Mafia Bola

Wahai Olahraga, Kapan Kau Kembali?-Spekta Sports

Jakarta, CNN Indonesia — Lucu untuk memikirkannya. Tapi terkadang kita tidak pernah mengerti sampai kita sadar sesuatu yang berharga dalam hidup kita telah hilang.

Jangan salah paham dengan pernyataan saya di atas. Keluarga masih menjadi sesuatu yang paling berharga dalam hidup saya.

Banyak orang mengatakan salah satu hikmah melakukan isolasi diri selama wabah virus corona adalah kita mendapatkan banyak waktu berkualitas bersama keluarga. Quality time kalau bahasa kerennya.



Sebagai jurnalis bisa sering bertemu dengan anggota keluarga, menghabiskan waktu bersama, adalah sesuatu yang langka. Dengan format kerja yang bukan office hour, saya lebih sering bertemu rekan kerja daripada istri dan anak di rumah.
Ini bukan curhat. Tapi hanya menceritakan konsekuensi menjadi jurnalis. Sebuah konsekuensi yang sudah saya rasakan sejak 2008, yang pastinya juga menjadi konsekuensi banyak profesi lainnya.
Duel Khabib vs Tony Ferguson di UFC 249 hampir pasti batal digelar.Duel Khabib vs Tony Ferguson di UFC 249 hampir pasti batal digelar. (Ed Mulholland/Getty Images/AFP)

Kembali membahas ke masalah ‘sesuatu yang berharga’. Olahraga saya anggap sebagai salah satu hal yang berharga. Olahraga sudah jadi bagian dari hidup saya sejak kecil.

Bela-belain bergadang untuk menyaksikan Liga Italia di RCTI, hingga bermain sepak bola di samping landasan Bandara Halim Perdanakusuma (jangan ditiru) saya lakoni karena kecintaan terhadap olahraga.

Mengoleksi kostum bola mulai dari bahan biasa sampai bahan jeruk, dari merek Austy hingga Seven Star.

Bercita-cita menjadi atlet, selain menjadi musisi, juga sempat menjadi ambisi ketika masih kecil. Sepak bola, bola basket, bulutangkis, dan bola voli menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari dari kecil hingga remaja. Bahkan saya sempat ikut klub bola voli milik TNI AU di Halim saat SMA.

Tapi garis takdir saya ternyata bukan menjadi atlet. Tuhan mendekatkan saya dengan olahraga dengan cara lain, yakni menjadi jurnalis olahraga.

Saya terbilang beruntung tidak ‘digeser’ ke desk lain sejak menjadi jurnalis pada 2008. Entah karena kemampuan yang pas-pasan hingga tidak dipercaya pindah ke desk yang lebih bergengsi seperti nasional atau ekonomi, atau memang dianggap bagus di desk olahraga.

Wahai Olahraga, Kapan Kau Kembali?

Apapun alasannya saya tetap bersyukur, karena menurut saya menjadi wartawan olahraga merupakan salah satu pekerjaan yang luar biasa. Anda bisa menonton pertandingan sepak bola atau cabang olahraga lainnya dan kemudian digaji. Keren kan?

Bedanya dulu habis bergadang menyaksikan pertandingan sepak bola atau menonton olahraga lainnya saya bisa langsung tidur atau santai, sekarang saya harus menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Dalam beberapa tahun terakhir saya tidak bisa benar-benar menikmati pertandingan olahraga karena kesibukan sehari-sehari. Sejak Piala Dunia 2018 mungkin saya hanya satu kali rela bergadang untuk menyaksikan pertandingan. Kalau tidak salah final Liga Champions Liverpool vs Tottenham Hotspur.

Mungkin hanya kejuaraan MotoGP yang terus saya pantau karena ada tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan. Selebihnya saya hampir tidak pernah mengikuti kejuaraan olahraga yang lain.

Kembali ke paragraf pertama tulisan ini: “Terkadang kita tidak pernah mengerti sampai kita sadar sesuatu yang berharga dalam hidup kita telah hilang.”

Itu yang saya rasakan saat ini. Saya baru sadar olahraga ternyata memiliki tempat yang cukup spesial di hidup saya. Kesadaran itu baru muncul ketika olahraga mati suri dihantam wabah virus corona. Hidup jadi membosankan.

[Gambas:Video CNN]
Kondisi membosankan saat ini pernah saya rasakan ketika 2012, saat PSSI terpecah menjadi dua. Ketika itu masa-masa memuakkan bagi wartawan yang biasa meliput sepak bola nasional, karena hampir setiap hari kita dihadapkan dengan konflik antara kedua pengurus.

Di momen itu yang dirindukan adalah aksi pesepakbola di atas lapangan hijau. Hanya di Indonesia di mana pengurus sepak bola lebih sering menjadi sorotan media daripada sang pemain.

Kembali ke kondisi saat ini. Tidak ada lagi pertandingan olahraga yang bisa saya nikmati, bahkan untuk menyaksikan siaran ulang melalui YouTube atau media sosial yang lain. Yang ada hanya video-video highlights pertandingan sebelum virus corona muncul. Seketika saja rasa jatuh cinta saya terhadap olahraga kembali muncul.

April ini seharusnya ada sejumlah ajang yang sangat menarik perhatian, mulai dari perempat final dan semifinal Liga Champions, MotoGP Amerika Serikat dan Argentina, F1 Vietnam dan China, hingga duel Khabib Nurmagomedov vs Tony Ferguson di UFC 249 yang seharusnya digelar pada 18 April.

Dalam tiga pekan terakhir sejak mulai menjalankan WFH, saya sering menyaksikan kembali tayangan ulang pertandingan olahraga atau wawancara atlet melalui YouTube. Salah satu tayangan yang saya lihat adalah balapan MotoGP Inggris 2019 ketika Alex Rins mengalahkan Marc Marquez di tikungan terakhir.

Setelah melihat video highlights Rins menang dengan keunggulan hanya 0,013 detik atas Marquez, saya sempat berada di titik hanya terdiam dan berpikir dalam hati, “Wow, gua rindu nonton balapan MotoGP.”

Liga Champions ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan.Liga Champions ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan. (LLUIS GENE / AFP)

Biasanya Minggu malam di kantor saya sering berteriak di kantor ketika mengawal balapan MotoGP. Sering berteriak, “Kapan ini Marquez jatuh?” atau “Aduh Rossi kenapa lo?”. Momen-momen yang tidak bisa terjadi saat ini.

Semakin sering saya menyaksikan tayangan ulang pertandingan olahraga, semakin dalam kerinduan itu muncul. Banyak juga pertanyaan yang muncul dalam hati: ‘Bagaimana ya Rossi musim ini, pensiun atau tidak’, ‘Juventus bisa tidak juara Liga Champions’, ‘Khabib kalah kayaknya nih’.

Wahai Olahraga, Kapan Kau Kembali?

Tapi semua rasa ingin tahu itu harus saya tahan. Saya selalu yakin rencana manusia tidak akan selalu sama dengan rencana Tuhan. Kita tidak bisa dengan mudah mengubah apapun dalam hidup ini, karena saya percaya dengan adanya takdir.

Berhentinya semua kegiatan olahraga dan wabah virus corona mungkin adalah cara Tuhan memberi kesempatan kepada saya untuk membayar waktu yang hilang dengan keluarga sejak 2008.

Sekarang saya akan berusaha menikmati waktu WFH ditemani keluarga sambil berharap wabah virus corona berakhir hingga bisa melepas rindu dengan dunia olahraga. (vws)





berita olahraga