Webster Ruling, Menguji Jurus Terakhir Barcelona Gaet Neymar-Spekta Sports

Webster Ruling, Menguji Jurus Terakhir Barcelona Gaet Neymar

Jakarta, CNN Indonesia — Barcelona¬†tak mau menyerah untuk mendatangkan kembali Neymar. Setelah ditolak Paris Saint Germain (PSG), Blaugrana kembali melancarkan strategi ‘Total Football’ demi menggaet penyerang asal Brasil itu.

Kali ini, Blaugrana mulai dengan pendekatan regulasi FIFA untuk melemahkan posisi tawar PSG. Klub raksasa Catalunya itu bakal memanfaatkan Regulasi FIFA Artikel 17 soal kesepakatan pemutusan hubungan kerja.

Disebutkan dalam Artikel 17 bahwa pemain yang ingin meninggalkan klub sebelum kontrak berakhir, harus membayar kompensasi kepada klub tersebut.



Aturan itu bisa dipakai tiga tahun setelah tanda tangan kontrak di klub yang bersangkutan jika pemain tersebut di bawah usia 28 saat tanda tangan kontrak. Apabila pemain tersebut berusia 28 atau lebih, aturan bisa digunakan dua tahun setelah tanda tangan kontrak.

Dalam hal ini, FIFA menjadi mediator antara klub dengan pemain yang bersangkutan. FIFA pula yang menentukan kompensasi yang harus dibayarkan sang pemain.

Angka yang harus dibayarkan berdasarkan keputusan FIFA biasanya tergantung kasus per kasus. Uang yang dibayarkan bisa nilai gaji di sisa kontrak pada klub lama atau total nilai gaji yang bakal diterimanya di klub baru plus biaya-biaya pengadilan.

Neymar disebut sudah enggan membela PSG dan ingin kembali ke Barcelona. (Neymar disebut sudah enggan membela PSG dan ingin kembali ke Barcelona. (FRANCK FIFE / AFP)

Regulasi ini lahir setelah kasus bek Skotlandia, Andy Webster, yang meninggalkan klub pada 2005 sebelum kontraknya usai. Klub lamanya, Hearts, menolak mengeluarkan surat pelepasan kepada Webster yang memutuskan ke Wigan.

Webster sendiri memutuskan hengkang karena hanya diparkir di bangku cadangan oleh Hearts.

Hearts pun mengambil langkah hukum dan mengadukan masalah itu ke FIFA. Dalam suratnya, Hearts menuntut Webster membayar kompensasi senilai 5 juta poundsterling karena telah melanggar kontrak secara sepihak.

Pada April 2007, FIFA kemudian memutuskan bahwa Webster harus membayar kompensasi sebesar 625 ribu poundsterling. Angka itu berdasarkan nilai gaji yang bakal diterima bek tersebut di klub baru plus biaya-biaya legal.

FIFA kemudian memutuskan Webster bersalah telah melanggar masa kontrak. Hearts kemudian naik banding ke Komite Arbitrase Olahraga (CAS) karena tidak puas dengan kompensasi yang bakal diterima klub itu.

Namun, CAS justru mengurangi kompensasi yang harus dibayarkan Webster kepada klub. Angka tersebut berkurang jauh menjadi 150 ribu poundsterling.

Presiden Barcelona Josep Maria Bartomeu (kanan) masih bersikeras mendatangkan kembali Neymar. (Presiden Barcelona Josep Maria Bartomeu (kanan) masih bersikeras mendatangkan kembali Neymar. (AP Photo/Emilio Morenatti)

Usai kasus tersebut, FIFA pun menambahkan pada regulasi terkait kontrak pemain dan klub dengan Artikel 17 tersebut. Regulasi ini pun dikenal dengan istilah Webster Ruling.

Pemain lain yang pernah memanfaatkan Webster Ruling adalah Jonas Gutierez dan Matuzalem asal Brasil.

Khusus untuk Matuzalem, seperti dikutip dari Daily Record, klub lama asal Ukraina Shakhtar Donetsk menggugatnya dengan kompensasi senilai klausul pelepasan yaitu 25 juta poundsterling. Saat itu Matuzalem memilih merapat ke Real Zaragoza meski kontraknya belum selesai.

FIFA kemudian menetapkan kompensasi yang harus dibayarkan Matuzalem kepada klub sebesar 6,8 juta poundsterling berdasarkan gaji yang akan diterima di klub baru. Shakhtar kemudian banding ke CAS.

Alhasil, Matuzalem harus membayar lebih besar yaitu 11,86 juta euro plus bunga sebesar lima persen setiap tahun.

Keputusan tersebut dimasukkan sejumlah perhitungan seperti kerugian klub kehilangan jasa Matuzalem di lapangan, jumlah gaji yang tidak harus dibayar Shakhtar, serta status dan kelakuan pemain itu sehingga kompensasi yang harus dibayar cukup besar.

Matuzalem saat masih memperkuat Shakhtar Donetsk. (Matuzalem saat masih memperkuat Shakhtar Donetsk. (AFP/SERGEI SUPINSKY)

Meski kasusnya melibatkan klub lama dan pemain yang bersangkutan, klub yang akan merekrut¬†lazimnya membantu pemain itu ‘dari belakang layar’. Kompensasi yang dikeluarkan pemain pun biasanya dibayarkan oleh klub baru mereka.

Jurus pemungkas ini pula yang kabarnya bakal diambil Barcelona. Salah satu strategi klub itu agar bisa mendapatkan Neymar lebih rendah dari klausul pelepasan yang ditetapkan PSG yaitu 200 juta euro atau setara RP3,2 triliun.

PSG sendiri mendatangkan Neymar dari Barcelona pada 2017 dengan membayar klausul pelepasan senilai 222 juta euro.

Perkiraan kompensasi yang harus dibayar Neymar ke PSG jika menggunakan Webster Ruling memang sangat tinggi. Masih dikutip dari Daily Record, angkanya bisa mencapai 73,6 juta euro. Nilainya bahkan bisa lebih tergantung dari pertimbangan hukum FIFA dalam melihat kasus per kasus.

Belum lagi, perjudian di level CAS apabila tim hukum PSG mengajukan banding. Nilainya bisa semakin tinggi atau sebaliknya, malah dipangkas.

Webster Ruling, Menguji Jurus Terakhir Barcelona demi Neymar

Belum lagi proses penyelesaian sengketa di tingkat FIFA hingga banding CAS yang bisa berjalan berlarut-larut. Prosesnya bakal lebih rumit.

Barcelona memang bakal menyiapkan tim pengacara terbaik mereka. Namun, sang pemilik Les Parisiens, Nasser Al-Khelaifi, juga tak segan menggelontorkan banyak uang membayar tim pengacara yang tak kalah andal.

PSG bakal menggunakan strategi ‘Parkir Bus’ dengan serangan balik mematikan untuk menghadapi ‘Total Football’ Barca dalam drama transfer Neymar.

Jurus yang disiapkan Barcelona pun tampaknya sebagai strategi memaksa kembali PSG bernegosiasi untuk menurunkan klausul pelepasan pemainnya. Meski demikian, Blaugrana jangan berharap nilainya bisa jauh terpangkas.

Belakangan PSG disebut-sebut bersedia melepas Neymar dengan nilai transfer 150 juta euro (Rp2,4 triliun). Itu hanya lebih murah 50 juta euro dari klausul pelepasan yang ditetapkan Les Parisiens yaitu 200 juta euro. (sry)





berita olahraga